merenungi hakikat umur
Khutbah Jumat
I
Indah Rachmawati
4 Mei 2026
4 menit baca
1 views
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ...
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ! اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Di hadapan keagungan Allah, seraya kita menapakkan kaki di hari yang mulia ini, mari kita renungkan sejenak sebuah anugerah terindah sekaligus ujian terberat yang Allah titipkan kepada kita: waktu. Bukankah umur kita adalah mata rantai detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun yang terus berjalan tanpa henti? Al-Qur'an mengingatkan kepada kita dalam surah Al-'Ashr:
> وَالْعَصْرِ - إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ - إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
*"Demi waktu (Ashr), sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."*
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Renungilah sejenak, berapa banyak waktu yang telah berlalu dari rentang usia yang Allah karuniakan kepada kita? Setiap detiknya adalah investasi yang tak ternilai. Apakah investasi itu kita gunakan untuk meraih keridhaan-Nya, atau justru terbuang sia-sia dalam kelalaian dan dosa? Betapa sering kita menganggap remeh detik-detik yang terlewat, padahal setiap tarikan nafas adalah sebuah kesempatan emas untuk mendekat kepada-Nya. Allah Ta'ala berfirman:
> يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
*"Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (sehingga berani durhaka) kepada Tuhanmu yang Maha Pemurah?"*
Dikala muda, kita sering berkata, "Nanti saja bertaubat, masih banyak waktu." Dikala sehat, kita berkata, "Nanti saja beribadah, badanku masih kuat beraktivitas." Namun, pernahkah kita sadar, bahwa "nanti" itu bisa jadi adalah keabadian di neraka atau penyesalan tanpa henti? Kematian, hadirin sekalian, adalah gerbang yang akan kita lalui, tak peduli siapapun kita, sekuat apapun kita, ia akan datang menjemput pada waktu yang telah ditetapkan.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda dalam sebuah hadits yang sangat menggugah:
> اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
> *"Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa sempatmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum masa matimu."* (HR. Al-Hakim dari Ibnu Abbas)
Lihatlah, betapa jelas peringatan dari Nabi kita yang tercinta. Masa muda, masa yang penuh semangat dan kekuatan, seringkali kita habiskan untuk mengejar kesenangan duniawi yang fana. Masa sehat, yang merupakan modal utama untuk beribadah, kita biarkan berlalu begitu saja. Kekayaan yang seharusnya menjadi sarana untuk beramal, terkadang justru membuat kita lupa diri. Kesempatan untuk beribadah dan berbuat baik, dengan mudah kita sia-siakan karena kesibukan yang tak berarti. Dan yang paling penting, masa hidup kita ini, yang merupakan kesempatan terakhir untuk memperbaiki diri, ternyata masih sering kita tangguhkan untuk menjadi seorang Muslim yang sejati.
Bayangkan, Saudara sekalian, jika detik ini malaikat maut datang menjemput. Apa yang akan kita bawa di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala? Apakah amalan sholeh yang berlimpah, atau dosa dan kelalaian yang menumpuk? Tangisan penyesalan di alam akhirat takkan lagi berguna. Air mata penyesalan yang tulus di dunia inilah yang menjadi bekal penentu.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Jangan biarkan hati kita menjadi keras seperti batu, yang tidak mampu lagi merasakan getaran kebenaran. Jangan sampai kita menjadi seperti orang-orang yang difirmankan Allah:
> وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى رَبِّهِمْ قَالَ أَلَيْسَ هَٰذَا بِالْحَقِّ ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَرَبِّنَا ۚ قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
*"Dan (alangkah ngerinya) kalau engkau melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhan mereka, Tuhan berfirman: "Bukankah (keadaan ini) adalah suatu kepastian?" Mereka menjawab: "Ya, benar (Qasam – sumpah) wahai Tuhan kami." Allah berfirman: "Maka rasakanlah azab ini disebabkan karena kamu mengingkarinya."* (QS. Al-An'am: 30)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Pada hakikatnya, umur kita adalah sebuah perjalanan spiritual. Setiap langkah adalah kesempatan untuk mencintai Allah lebih dalam, setiap tarikan nafas adalah anugerah untuk mensyukuri nikmat-Nya, dan setiap ujian adalah panggilan untuk bersabar dan bertawakkal kepada-Nya. Marilah kita ubah cara pandang kita terhadap waktu. Lihatlah setiap detik sebagai ladang pahala, setiap kesempatan sebagai sarana untuk berbuat kebaikan.
Ingatlah selalu akan janji Allah bagi hamba-Nya yang bertaubat:
> وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
*"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung."* (QS. An-Nur: 31)
Jadikanlah setiap detik sisa umur ini sebagai bahan bakar untuk mendekat kepada-Nya, bukan sebagai bahan bakar untuk menjauh dari-Nya. Pancarkan cinta kita kepada Allah dengan amal nyata, bukan sekadar kata-kata. Niatkan setiap helaan nafas untuk mencari keridhaan-Nya, bukan untuk sekadar memenuhi tuntutan dunia.
Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ampunilah segala kelalaian kami. Jadikanlah sisa umur kami adalah sebaik-baik bekal untuk menghadap-Mu kelak.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.